Dalam suatu hubungan pasti ada suka dan
duka. Suka karena kebahagian yang tercipta di setiap momen kebersamaan yang
begitu indah. Kadang waktupun terlupakan. Waktu berjalan begitu cepat tanpa
bisa kita tawar. Merenggut momen-momen bahagia kebersamaan dengan cepat. Kadang
pun ada duka. Duka karena selisih paham mau pun masalah yang muncul begitu
saja. Tak ada yang mengundang masalah itu untuk datang. Bahkan mungkin kadang
tak terpikirkan mengapa “mereka” muncul. Kebetulan? Jelas bukan!!! Pasti ada
pemetik api sebelumnya, hingga terbakar hangus oleh bara yang lara. Oleh
api-api kemarahan.
Ego selalu muncul di antara kita. Tidak
ada yang mau mengalah untuk menyudahi amarah yang ada. Kadang aku merasa paling
benar, kadang kau merasa lebih benar. Sulit untuk menyatakan kesalahan,
kekhilafan maupun penyesalan. Terlebih sulit lagi meminta maaf. Kata yang
sesungguhnya sangat ringkas diucapkan. Dengan sejuta manfaatnya. Mungkin,
bukan karena merasa benar atau salah saja. Lebih karena masalah gengsi. Sungguh
aneh suatu masalah, terlebih aneh yang terlibat masalah.
Kalau semua masalah ini, bukan karena
kau atau aku, namun lebih karena kita. Bukankan maaf sesungguhnya pasti akan
muncul setelahnya? Bukankah baikkan itu akan kembali beriringan? Sadarlah, bila
ini masalah kita. Ini bukan salahmu ataupun salahku, namun kesalahan kita. Ini
bukan masalah siapa yang benar, namun bagaimana cara kita membenarkannya. Ini
bukan masalah maaf memaafkan, karena baik maaf darimu atau dariku sesungguhnya
itu atas landasan kita. Bila semua berlandaskan akan kita, sesungguhnya masalah
kita tak pernah ada.
Masalah ada bila ada dia. Jika tak ada
tokoh dia dalam cerita kita, sungguh cerita kita tanpa masalah. Maafkan aku
sayang, bila aku tak sempurna untuk bahagiamu. Maafkan aku sayang, yang kadang
membuatmu cemberut. Maafkan aku, karena aku masih belajar mencintaimu. Bukan
berarti aku tak tulus mencintaimu. Itu semua karena aku benar-benar
menyayangimu. Aku terus belajar mencintaimu, agar rasa cintaku kepadamu semakin
bertambah tanpa henti seperti bilangan yang tak berujung.