Laman

Sabtu, 01 November 2014

Maaf



Dalam suatu hubungan pasti ada suka dan duka. Suka karena kebahagian yang tercipta di setiap momen kebersamaan yang begitu indah. Kadang waktupun terlupakan. Waktu berjalan begitu cepat tanpa bisa kita tawar. Merenggut momen-momen bahagia kebersamaan dengan cepat. Kadang pun ada duka. Duka karena selisih paham mau pun masalah yang muncul begitu saja. Tak ada yang mengundang masalah itu untuk datang. Bahkan mungkin kadang tak terpikirkan mengapa “mereka” muncul. Kebetulan? Jelas bukan!!! Pasti ada pemetik api sebelumnya, hingga terbakar hangus oleh bara yang lara. Oleh api-api kemarahan.
Ego selalu muncul di antara kita. Tidak ada yang mau mengalah untuk menyudahi amarah yang ada. Kadang aku merasa paling benar, kadang kau merasa lebih benar. Sulit untuk menyatakan kesalahan, kekhilafan maupun penyesalan. Terlebih sulit lagi meminta maaf. Kata yang sesungguhnya sangat ringkas diucapkan. Dengan sejuta manfaatnya. Mungkin, bukan karena merasa benar atau salah saja. Lebih karena masalah gengsi. Sungguh aneh suatu masalah, terlebih aneh yang terlibat masalah.
Kalau semua masalah ini, bukan karena kau atau aku, namun lebih karena kita. Bukankan maaf sesungguhnya pasti akan muncul setelahnya? Bukankah baikkan itu akan kembali beriringan? Sadarlah, bila ini masalah kita. Ini bukan salahmu ataupun salahku, namun kesalahan kita. Ini bukan masalah siapa yang benar, namun bagaimana cara kita membenarkannya. Ini bukan masalah maaf memaafkan, karena baik maaf darimu atau dariku sesungguhnya itu atas landasan kita. Bila semua berlandaskan akan kita, sesungguhnya masalah kita tak pernah ada.
Masalah ada bila ada dia. Jika tak ada tokoh dia dalam cerita kita, sungguh cerita kita tanpa masalah. Maafkan aku sayang, bila aku tak sempurna untuk bahagiamu. Maafkan aku sayang, yang kadang membuatmu cemberut. Maafkan aku, karena aku masih belajar mencintaimu. Bukan berarti aku tak tulus mencintaimu. Itu semua karena aku benar-benar menyayangimu. Aku terus belajar mencintaimu, agar rasa cintaku kepadamu semakin bertambah tanpa henti seperti bilangan yang tak berujung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar