Laman

Jumat, 09 Januari 2015

More than Theory



Cinta itu soal memberi. Memberi kasih sayang tanpa syarat. Cinta itu mengajarkan kita untuk mengasihi dan menyayangi tanpa perlu meminta dikasihi dan disayangi.
Arti cinta begitu luas daripada rasa sayang. Kadang rasa sayang pun lebih luas daripada cinta. Cinta dan kasih sayang tak mungkin terpisahkan.
Mengapa ada malam karena ada siang. Mengapa ada gelap karena ada terang. Pun dengan hitam karena ada putih. Itulah teori. Teori yang sedari dulu sudah ada. Yang sedari dulu sama adanya.
Ketika ada dua sejoli yang sedang dilanda asmara. Yang sedang dimabuk cinta. Mereka menjalani kisah mereka lebih dari sekedar rasa cinta. Ingat, cinta adalah soal memberi. Cinta suatu hal yang tulus tanpa syarat. Bukan berarti mereka para petualang asmara tak saling mencinta. Tak mungkin dua sejoli itu hanya memberi tanpa mengharap balasan dari pasangannya. Ini bukan tulus tak tulus. Ini kisah asmara. Rasa kasih dan sayang tercampur di dalamnya. Pun dengan rasa-rasa yang lain. Memang ini semua tentang kepercayaan. Kepercayaan dua sejoli tersebut dalam menjalani kisah asmara mereka. Tapi tak sesimpel itu. Kisah asmara itu bagaikan virus yang selalu bermutasi. Yang tak cukup berlandas pada teori belaka. Jika kau hanya mengandalkan teori, mengandal apa yang dirasa, mengandalkan apa kata dunia, kau akan mati di dalamnya.
Kita akan menemukan vaksin atau bahkan obat dari suatu virus, ketika kita melakukan percobaan yang berlandas fakta dan teori yang ada, berulang kali salah dan gagal dalam menyusun suatu praduga. Hingga akhirnya kita menemukannya. Seperti kisah asmara, dimana di jalan nanti pasti ada suka maupun duka.
Semua orang punya kisah asmaranya masing-masing. Tak ada yang sama dan tak perlu disama-samakan. Bila disama-samakan, sebetulnya itu hanya mengulang kisah orang lain. Teori orang lain. Kisah asmara lebih dari itu, lebih dari yang orang tahu. Karena setiap detiknya pasti ada kisah yang baru. Kita hanya perlu memahami keadaan, mengerti akan apa yang dihadapi. Bukan bercermin dari kisah yang lain. Karena bila kisah yang begitu-begitu saja, sama dan sama seperti yang dahulu. Kita takkan pernah menjadi penemu kisah kita sendiri. Dan itu semua pasti membosankan. Ciptakan kisahmu, untuk bahagia yang baru. Bukan bahagia yang semu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar