Laman

Selasa, 07 Oktober 2014

Bila Cinta Harus Disimpan



Untuk kau orang yang tersakiti oleh cintaku. Maafkan aku atas semua keputusanku ini. Aku lebih memilih dia dari pada hadirmu. Sungguh aku tak mengerti akan apa yang aku pilih ini. Akan benar atau salah kemudian. Mungkin aku terlalu takut dan bimbang hingga aku pilih dia karena kasih tanpa sayang. Akupun tak mengerti apakah ini pilihanku atau orang-orang di dekatku yang sungguh memberi andil besar untuk semua itu.
Untuk kau yang tersayang yang tak pernah ku miliki. Ini bukan kehendakku. Pusaran waktu yang telah memutuskan, bahwa cerita kita berakhir disini. Mungkin karena cerita kita terlarang. Mungkin karena cinta datang di waktu yang salah, di tempat yang tidak tepat. Namun siapa yang menyangka, cinta akan datang? Sungguh di luar kuasaku untuk menahannya. Gravitasimu begitu besar, hingga cerita yang sedang ku jalani pun teralihkan. Sungguh ku mengharapkanmu lebih dari yang tahu.
Kini ku jalani hariku bersamanya. Mencoba melupakan senyum dan tawa tentangmu. Aku coba untuk membangun dan merintis cintaku untuknya yang sedari dulu bersamaku. Cinta bisa tumbuh karena waktu, cinta mekar karena terbiasa. Benarkah itu cinta? Ataukah hanya rutinitas belaka? Tak begitu mengertiku tentang rasa. Karena bayangmu selalu muncul di sela-sela waktuku bersamanya.
Terima kasih untukmu karena telah melupakanku. Pergi menjauh dari kehidupanku. Namun maafkan aku duhai mimpiku, aku masih merindukanmu. Rindu akan hadirmu, keberadaanmu, serta senyum tawa bahagiamu yang selalu kau bagi kepaku “dahulu”. Kau pernah bilang padaku bahwa kata, “kau terlalu baik untukku” memiliki makna bahwa ada yang lebih baik untukku. Namun sungguh kau terlalu baik untukku, dengan caraku datang kepadamu dengan caraku pergi darimu.
Mungkin bila waktu kelak bisa merubahku, merubah cerita hidupku bersamanya yang tak lagi sama. Orang yang ingin aku tuju hanya kau mimpiku. Bila masa itu akan terjadi, aku ingin kembali melanjutkan cerita bersamamu. Namun mungkin, bila memang masa itu akan datang, aku takkan berani sedikitpun mengajakmu bersama, kecuali kau menyapaku kembali. Aku sadar betul, sudah banyak luka yang tergores di hatimu oleh semua tingkah laku ku dulu. Mungkin rasamu terhadapku pun sudah hilang oleh pusaran waktu, tergantikan oleh sosok yang lebih mengerti kau mimpiku. Biarkan aku simpan rasa cintaku untukmu ini, hingga aku haram memilikinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar