Untuk kau orang yang tersakiti oleh
cintaku. Maafkan aku atas semua keputusanku ini. Aku lebih memilih dia dari
pada hadirmu. Sungguh aku tak mengerti akan apa yang aku pilih ini. Akan benar
atau salah kemudian. Mungkin aku terlalu takut dan bimbang hingga aku pilih dia
karena kasih tanpa sayang. Akupun tak mengerti apakah ini pilihanku atau
orang-orang di dekatku yang sungguh memberi andil besar untuk semua itu.
Untuk kau yang tersayang yang tak pernah
ku miliki. Ini bukan kehendakku. Pusaran waktu yang telah memutuskan, bahwa
cerita kita berakhir disini. Mungkin karena cerita kita terlarang. Mungkin
karena cinta datang di waktu yang salah, di tempat yang tidak tepat. Namun
siapa yang menyangka, cinta akan datang? Sungguh di luar kuasaku untuk
menahannya. Gravitasimu begitu besar, hingga cerita yang sedang ku jalani pun
teralihkan. Sungguh ku mengharapkanmu lebih dari yang tahu.
Kini ku jalani hariku bersamanya.
Mencoba melupakan senyum dan tawa tentangmu. Aku coba untuk membangun dan
merintis cintaku untuknya yang sedari dulu bersamaku. Cinta bisa tumbuh karena
waktu, cinta mekar karena terbiasa. Benarkah itu cinta? Ataukah hanya rutinitas
belaka? Tak begitu mengertiku tentang rasa. Karena bayangmu selalu muncul di
sela-sela waktuku bersamanya.
Terima kasih untukmu karena telah
melupakanku. Pergi menjauh dari kehidupanku. Namun maafkan aku duhai mimpiku,
aku masih merindukanmu. Rindu akan hadirmu, keberadaanmu, serta senyum tawa
bahagiamu yang selalu kau bagi kepaku “dahulu”. Kau pernah bilang padaku bahwa
kata, “kau terlalu baik untukku” memiliki makna bahwa ada yang lebih baik
untukku. Namun sungguh kau terlalu baik untukku, dengan caraku datang kepadamu
dengan caraku pergi darimu.
Mungkin bila waktu kelak bisa merubahku,
merubah cerita hidupku bersamanya yang tak lagi sama. Orang yang ingin aku tuju
hanya kau mimpiku. Bila masa itu akan terjadi, aku ingin kembali melanjutkan
cerita bersamamu. Namun mungkin, bila memang masa itu akan datang, aku takkan
berani sedikitpun mengajakmu bersama, kecuali kau menyapaku kembali. Aku sadar betul, sudah banyak luka yang
tergores di hatimu oleh semua tingkah laku ku dulu. Mungkin rasamu terhadapku
pun sudah hilang oleh pusaran waktu, tergantikan oleh sosok yang lebih mengerti
kau mimpiku. Biarkan aku simpan rasa cintaku untukmu ini, hingga aku haram
memilikinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar