Laman

Rabu, 15 Oktober 2014

Jangan Risih dan Malu



Saat kita bersama dalam suatu momen yang hanya kita di dalamnya. Duduk berdua berdampingan menghabiskan detik demi detik dengan asiknya bercerita. Kadang terdiam dalam heningnya kata. Bukan karena bosan atau letih dalam bercakap cerita, hanya ingin hening dalam cinta. Ungkapan cinta tak harus dalam bentuk ungkaian kata yang tersusun rapi dengan sajak yang romantis dibumbui puji-pujian di dalamnya. Hanya dengan pandangan mata yang tulus pun sudah bisa ungkapkan rasa.
Duhai pujaanku, mengertilah engkau betapa aku sangat menyayangimu. Tulus tanpa ada syarat di dalamnya. Mencintai itu bukan soal menerima balasan, namun lebih memberi dengan ikhlas kasih sayang untuknya. Seperti, air hujan yang turun membasahi bumi ini. Tulus tanpa ada beban maupun keterpaksaan.
Kasih, batinku ini milikmu. Hati dan jantungku hanya untukmu. Ragaku ini siap untuk melindungi engkau kekasihku. Selebih lagi hanya pundakku, yang hanya ingin kau pinjam untuk tempatmu bersandar. Sungguh, bersandarlah kekasihku. Aku takkan merasa lelah akan hal itu. Aku bahkan akan merasa lebih senang dari yang kau tahu. Janganlah merasa risih atau malu, tempat ini memang selalu menantimu. Karena sesungguhnya ini hanya milikmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar