Laman

Selasa, 07 Oktober 2014

Mengerti itu Sulit



Ku serahkan seluruh waktuku untuknya. Untuknya yang selalu aku agungkan. Wahai engkau pujaan hatiku, tak pernah mengertikah bahwa ku curahkan semua rasa yang ku miliki hanya untukmu seorang? Mengapa kau tak pernah melihat itu? Apakah harus ku ucapkan apa saja yang aku korbankan untukmu? Bila ku seperti itu, mungkin itu bukan ketulusan hati. Hanya ajang “adu baik-baikkan” saja. Namun semuanya ku lakukan karenamu. Karena aku menghargai setiap pintamu, sungguh aku sayang. Mengapa kau tak pernah hargai itu wahai sayangku? Memang aku hanyalah seonggok daging yang bernafas, yang banyak akan kekurangan. Sungguh teramat jauh dari kesempurnaan.
Mengapa kau menilaiku begitu hina? Bila aku ada salah, maafkanlah. Bila aku ada khilaf, maafkanlah. Maafkanlah orang yang penuh akan luka ini sayang. Aku sungguh tak bermaksud untuk semua itu. Waktu yang membuatku tak berdaya. Tapi, sungguh aku selalu memikirkanmu disetiap waktuku.
Tak pahamkah engkau sayang? Betapa aku tak pernah menuntutmu? Semua karena aku suka kau apa adanya. Aku tak pernah memandang setiap kekuranganmu, karena aku ingin menutupinya. Aku tak pernah memintamu menjadi orang lain, karena aku sayang kau adanya. Bahkan aku tak pernah menyuruhmu mengertiku, memahami setiap masalahku, karena aku tak mau menjadi bebanmu. Aku ingin, aku ada hanya untuk bahagiamu. Kebahagianmu adalah bahagiaku.
Apa salah rasa sayangku untukmu duhai kekasihku? Rasa ku ini begitu suci, hanya untukmu. Sungguh kau yang telah merubahku, menjadi orang yang lebih menghargai. Tapi apakah kau masih mempermasalahkan masa laluku? Masa lalu yang sudah ku kubur dalam-dalam saat hadirmu. Tak sadar kah kau? Hadirmu telah merubah seonggok daging yang hanya bernafas ini, menjadi mengerti akan rasa pahit dan manisnya kehidupan.
Mungkin terlalu banyak luka masa lamaku, hingga kau tak sanggup menghapusnya. Mungkin kau merindukan dekapan orang lain yang kau nilai lebih dari ku. Memberikan kehangatan pelukan yang selama ini kau cari. Tubuhku terlalu dingin hingga tak bisa memberi kehangatan untukmu. Tanganku terlalu kaku hingga tak sanggup  menggenggammu. Aku hanya mencoba menjadi lebih baik karenamu, bukan berarti menjadi yang terbaik untukmu.
Bila kau tak bisa menerima masa laluku, mengapa kau menerima ku? Bukan kah itu memberi luka kepadaku? Adakah dosa yang ku lakukan kepadamu sebelum kita berjumpa sehingga kau lakukan semua ini? Mengacuhkan ku setelah rasa ini tumbuh begitu besar. Mungkin aku pantas akan semua rasa sakit yang kau berikan ini. Namun sungguh aku tak menyangka, ternyata bidadari pun kejam untuk membunuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar